MALANG – Gelombang penolakan terhadap rencana perluasan rute Bus Trans Jatim (Koridor 2) terus bergulir di Kota Malang. Menghadapi potensi masuknya transportasi massal tersebut, para sopir angkutan kota (angkot) yang tergabung dalam wadah keluarga besar Asosiasi Driver Indonesia (A-drone) secara resmi melayangkan surat penolakan massal kepada sejumlah instansi dan pemangku kebijakan penting di Kota Malang.
Surat protes dan aspirasi tersebut dikirimkan secara serentak kepada DPRD Kota Malang, Wali Kota Malang, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, serta Polresta Malang Kota. Langkah ini diambil sebagai bentuk keprihatinan mendalam para sopir angkot terkait keberlangsungan mata pencaharian mereka yang kian terjepit.
Ketua Asosiasi Driver Indonesia (A-drone) Budi Andri Yanto menyatakan, bahwa kehadiran Bus Trans Jatim di jalur perkotaan Malang diduga akan mematikan eksistensi angkot yang sudah puluhan tahun melayani warga.
"Pendapatan teman-teman sopir angkot saat ini sudah sangat minim akibat persaingan dengan transportasi online. Jika Trans Jatim dipaksakan masuk tanpa kajian mendalam dan solusi tepat, ini sama saja dengan mematikan pendapatan para driver angkutan kota," ujarnya Andre, sapaan akrabnya saat diwawancara. (3/7)
Dalam poin-poin surat yang dikirimkan, A-drone menuntut beberapa hal krusial kepada instansi terkait :
- Kepada Wali Kota dan DPRD Kota Malang : Memohon perlindungan regulasi dan kebijakan yang berpihak pada nasib transportasi lokal (angkot), serta meminta pembatalan atau peninjauan ulang rute Trans Jatim agar tidak bergesekan langsung dengan trayek angkot aktif.
- Kepada Dinas Perhubungan Kota Malang : Mendesak dilakukannya forum audiensi terbuka yang melibatkan perwakilan driver angkot sebelum ada keputusan strategis mengenai operasional Trans Jatim.
- Kepada Kapolresta Malang Kota : Pemberitahuan resmi guna menjaga kondusifitas, stabilitas keamanan, dan ketertiban di jalan raya, sekaligus mengantisipasi potensi gesekan horizontal di lapangan.
Masih ditempat yang sama, Bang Soni sapaan akrab selaku perwakilan para sopir angkot juga menyampaikan keluhannya, bahwasanya pendapatan mereka sangat turun drastis dan bahkan sempat pulang tidak bawa uang karena habis untuk setoran.
"Waduh lur... Jian... ajor tenan nasib'e ayas karo bolo-bolo saat Iki. Kerjo akeh-akehe muleh gak gowo duwek, entek mek digawe nutupi setoran tok", ujar Bang Soni dengan bahasa jawa setengah arema.
Dengan adanya mereka berkirim surat ke lembaga-lembaga terkait di pemerintahan kota malang, mereka berharap Trans Jatim di hentikan beroperasi di Kota Malang. Dan jika aspirasinya diabaikan dan tidak ada ruang dialog yang adil, Asosiasi Driver Indonesia tidak menutup kemungkinan akan menggelar aksi unjuk rasa damai yang lebih besar demi mempertahankan hak-hak hidup mereka para sopir angkot di Kota Malang.(Red)

Komentar
